
Pilkada serentak yang telah dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2018 di beberapa daerah kemarin secara tidak langsung ada yang dapat digunakan sebagai data analisa dalam pilpres 2019 mendatang. Meskipun begitu tidak semua daerah dapat digunakan untuk menggambarkan peta pilpres 2019 mendatang.
Tidak bisa semuanya digunakan untuk menggambar peta kekuatan politik secara nasional disebabkan, pilkada dalam daerah sangatlah dinamis. Partai oposisi dan partai yang berdiri di pemerintahan banyak yang berkoalisi dalam pilkada. Hanya beberapa saja yang memang partai oposisi bersatu dalam pilkada. Meskipun, kebanyakan partai oposisi di daerah yang tidak mengusung kadernya sendiri diakibatkan rendahnya elektabilitas.Misalnya di Jawa Timur, partai oposisi tidak berdaya di sana, sehingga terpaksa untuk ikut menjadi partai pendukung calon yang diusung oleh partai yang berdiri dalam pemerintahan.
Tetapi yang menjadi unik entah suatu kebetulan atau memang sudah dipertimbangkan adalah pilkada (pilgub) di Jawa Barat, dimana partai oposisi seperti berdiri sendiri melawan partai yang berdiri di kubu pemerintahan. Selain itu, Jawa Barat layak dijadikan analisa sebab di provinsi tersebut merupakan persentase lumbung suara terbesar di bandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya.
Selain hal di atas, dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat lah yang paling “vulgar” membawa sentimen 2019 ganti presiden. Inilah yang menjadi layak di bahas serta dapat digunakan untuk membaca peta pilpres 2019 tahun depan. Meskipun ada kemungkinan meleset, tetapi tidak besar.
Menghitung kemungkinan dari hasil pilkada (pilgub) Jawa Barat dengan cara yang sederhana
Karena hasil perhitungan dari KPU belum selesai, marilah kita menggunakan data dari hasil quick count yang dapat dipercaya, dimana hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan hasil dari perhitungan manual dari KPU. Di sini kita akn menggunakan hasil yang dipublikan oleh lembaga yang bekerja sama dengan detik.com.

Untuk pasangan nomor urut pertama yaitu Ridwal Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, yang diusung oleh PPP, PKB, Nasdem dan Hanura. Ridwan kamil merupakan politikus non parpol, tetapi Nasdem dari awal sudah mendeklarasikan beliau, sedangkan wakilnya merupakan kader dari PPP. Pasangan ini berdasarkan hasil quick count menang dengan memperoleh suara sebesar 32,26%.
Dilihat dari partai pengusung, Nasdem, PPP, dan Hanura merupakan partai yang berdiri teguh untuk mendukung pemerintahan. Sedangkan untuk PKB, masih abu-abu, sebab belum ada ketegasan dalam menentukan, apakah pilpres mendatang merapat di kubu Jokowi atau tidak. Tetapi melihat kader yang diusung, bisa dikatakan PKB dalam kemenangan pilkada Jawa Barat (pilgub) merupakan partai pendukung bukan partai pengusung. Meskipun begitu, bukan berarti PKB tidak berperan dalam pemenangan tersebut.
Sedangkan untuk calon yang diusung oleh PDI P, Mayjen (Purn) TNI Tubagus Hasunidan – Irjen Anton memperoleh suara sebesar 12,77%. Untuk calon yang diusung Golkar dan Demokrat, Duo D mendapatkan perolehan suara sebesar 25, 38 %. Untuk persentase suara PDI P, tentu masih bisa sepenuhnya dimasukan untuk menghitung calon perolehan pada pilpres mendatang, sebab ini murni suara dari PDI P. Sedangkan untuk suara duo D, tidak bisa sepenuhnya, jika kita anggap setengahnya saja yang dapat digunakan untuk perhitungan, maka sekitar 12, 5 % saja.
Dari perhitungan sederhana di atas, suara Jokowi di pilpres bisa menjadi 32% + 12%+12% = 56%. Nilai tersebut bisa digunakan untuk menambah keyakinan terkait hasil survei yang dilakukan oleh Indon Barometer di Jawa Barat yang memenangkan Jokowi dengan perolehan 33,6 % untuk Jokowi dan 22,8 untuk Prabowo.

2019 Ganti Presiden gagal
Jika kita melihat pilpres 2014 yang lalu, Jawa Barat dikuasai oleh Prabowo, tetapi kali ini menunjukkan bahwa Jawa Barat sudah berpaling ke Jokowi. Bahkan karena saking percaya dirinya kubu oposisi, mereka bersama dalam pilkada Jawa Barat (pilgub). Gerindra, PKS dan PAN bersama-sama mengusung Mayjen (Purn) Sudrajat dan Ahmad Sayikhu.

Kepercayaan diri kubu oposisi bahkan terlihat ketika kedua pasangan tersebut mempropagandakan 2019 ganti presiden. Secara tidak langsung ini membuat pertempuran di Jawa Barat bukan hanya sekedar pertempuran pilgub tetapi digunakan untuk mempersiapkan pertempuran pada pilpres 2019 mendatang untuk melawan Jokowi. Tetapi sialnya, mereka terjungkal dengan perolehan suara sebesar 29,58%.
Dari perhitungan sederhana di atas sudah jelas, Jokowi memiliki persentasi menang di lumbung suara lawan yang juga lumbung suara terbesar pada tahun 2014 lalu.
Udah ah, gitu aja..
0 Response to "Kalahnya Penjual #2019GantiPresiden di Pilkada Cermin Kemenangan Jokowi di Pilpres 2019"
Posting Komentar