Upaya Pembohongan dan Pembodohan Rakyat Melalui #2019gantipresiden


Hasil gambar untuk 2019 ganti presiden



Saya membaca berita tentang "Mardani Luncurkan Buku #2019GantiPresiden: Ini Gerakan Sosial" (kumparan.com) dan pernyataan gerakan sosial ini juga diperdebatkan di acara Kompas TV "ROSI" antara Madani dan Maruara Sirait.

Apakah benar gerakan #2019gantipresiden adalah gerakan sosial? Apakah Madani, PKS dan pengikutnya sedang peduli terhadap kehidupan sosial bangsa Indonesia? Atau mereka sedang melakukan pembohongan dan pembodohan melalui gerakan tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak definisi tentang jabatan presiden terlebih dahulu. Menurut artikel yang diterbitkan oleh KOPERTIS Wilayah 12 presiden merupakah jabatan politis:

Jabatan Politik dalam administrasi publik adalah pejabat publik hasil dari sebuah pemilu atau pemilukada. Sedangkan jabatan karir adalah para birokrat yang secara normatif melaksanakan kebijakan pembuat kebijakan oleh pejabat publik yang berasal dari politisi (jabatan politik). Jabatan karir merupakan jabatan yang dimiliki oleh seorang PNS, biasanya dalam birokrasi Pemerintah Daerah, jabatan karir tertinggi dipegang oleh Sekretaris Daerah.

Sedangkan jabatan politis, merupakan jabatan yang dihasilkan oleh proses politik, misal, Gubernur, wakil gubernur, Presiden/ wakil Presiden, beserta para menterinya. (ristekdikti.go.id)

Jadi jelas bahwa jabatan presiden adalah jabatan politis. Dari definisi tersebut tagar #2019gantipresiden dapat dikatakan mempunyai makna gerakan politis karena yang ingin digantikan adalah jabatan politis. Dari satu pernyataan ini saja, sangat jelas bahwa Madani, PKS dan pengikutnya sedang membohongi dan membodohi saya dan mungkin kebanyakan orang-orang Indonesia (kalau belum boleh mengatakan rakyat Indonesia).

Apakah Madani tidak tahu bahwa presiden adalah jabatan politis? Tentu saja pasti dia tahu karena dia adalah anggota DPR. Kalau dia sudah tahu mengapa dia masih tetap ngotot bahwa gerakan #2019gantipresiden adalah gerakan sosial? Tentu saja tujuan dan motif utamanya adalah memang ingin membodohi dan membohongi saya dan mungkin seluruh rakyat Indonesia.

Saya adalah salah satu rakyat Indonesia, demikian juga pembaca artikel ini tentu merupakan rakyat Indonesia. Bagi saya (mungkin rakyat Indonesia) merasa semakin diulang-ulang pernyataan-pernyataan Madani, PKS, Gerindra dan pengikutnya melalui gerakan #2019gantipresiden, semakin merasakan upaya pembodohan dan pembohongan yang menyakitkan hati.

Kita sudah menyaksikan dan melihat bahwa gerakan tersebut semakin marak dan dilakukan secara sistematis. Dengan kata lain bahwa upaya pembodohan dan pembohongan tersebut semakin sistematis dilakukan oleh Madani dan partainya. Saya menuangkan tulisan ini karena saya sudah merasa muak dengan gerakan yang sedang membodohi saya.

Pernyataan yang digembar-gemborkan oleh gerakan #2019gantipresiden ini tidak ada satu pun yang didukung oleh fakta dan data yang akurat dan benar. Apa yang disampaikan mereka adalah pemutar-balikan fakta-fakta dan memainkan kata-kata semata. Mereka tidak pernah menyampaikan bagaimana solusi terhadap masalah yang dikritiknya.

Ini yang membuat saya semakin muak dan semakin merasa dibodohi dan dibohongi karena sebenarnya mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan permasalahkan tersebut.

Sebagai contoh, Madani selalu mengatakan bahwa #2019gantipresiden akan mati atau berhenti kalau harga telur Rp. 11.000. Madani ingin mengatakan bahwa harga telur yang berkisar Rp. 19.000 - Rp. 20.000 (rajaharga.com) itu menjadikan rakyat terbebani, menjadi menderita, menjadi miskin, dan sebagainya.

Saya merasa dibodohi dan dibohongi dengan pernyataan tersebut. Mengapa?

Pertama, Madani dan PKS sedang memainkan kata-kata untuk membangun persepsi bahwa kenaikan harga telur menjadi Rp 19.000 atau Rp. 20.000 akan bisa membuat rakyat menjadi sengsara.

Apakah benar bahwa kenaikan sebesar Rp 8.000 - Rp. 10.000 itu rakyat akan menjadi sengsara? Mari kita simak kalau 1 butir telur mempunyai berat antara 50 gram sampai 60 gram, maka per 1 kg berisi kira-kira 15 - 20 butir. Kalau harga telur per 1 kg Rp. 20.000 maka harga per butir sekitar Rp. 1.000 sd Rp. 1.500.

Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan 2 anak akan mengkonsumsi per hari sekitar 4 sampai dengan 6 butir, maka sehari satu keluarga akan mengeluarkan uang Rp. 10.000 atau menanggung kenaikan harga sebesar Rp 1.900 - 2.500 (Rp. 10.000/4 - 6 butir) per hari. Apakah mengeluarkan uang sehari Rp. 10.000 (atau menanggung kenaikan harga telur Rp 1.900 - 2.500) untuk konsumsi telur akan membuat rakyat menjadi miskin.

Semoga pembaca setuju dengan saya bahwa ini upaya pembodohan Madani, PKS, Gerindra dan koalisinya. Jelas bahwa kenaikan telur tersebut hanya digunakan untuk membangun persepsi salah. Kalau kita amati bahkan masih banyak orang Indonesia yang mampu menghabiskan uang lebih dari Rp. 10.000 sehari untuk rokok atau telepon atau data internet atau pengeluaran lain-lainnya.

Uang sebesar Rp. 10.000 tidak akan membuat orang Indonesia menjadi kaya dan tidak juga menjadikan rakyat Indonesia jatuh miskin. Kedua, Madani, PKS dan Gerindra tidak pernah menyampaikan program-program kerja yang dapat membuat Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang kalau calon presiden dari mereka terpilih.

Mereka hanya bisa memaki-maki dan mengkritik tanpa menyampaikan program-program kerja dan solusinya. Dengan demikian sekali lagi saya merasa dibodohi dan dibohongi oleh Madani dan partai-partai koalisi karena mereka sesungguhnya tidak tahu cara mengatasi apa yang dikritiknya.

Tidak pernah ada bukti-bukti bahwa mereka mempunyai kemampuan yang lebih baik dan lebih cakap dari pemerintahan Jokowi dan JK. Mereka hanya membangun ilusi-ilusi bahwa kalau presidennya dari mereka maka mereka akan membuang rakyat Indonesia kaya raya, sejahtera, hidup nyaman, tiap hari berlibur dan janji-janji semu yang membodohi rakyat untuk memilih calon presidennya mereka.

Semoga rakyat Indonesia semakin dewasa, kritis dan berani menyuarakan kebenaran. Semoga para akademisi dan mahasiswa berani menyuarakan kebenaran yang membela kepentingan rakyat. Saya yakin rakyat Indonesia dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia mampu mengkritisi dan mensikapi gerakan-gerakan politik yang hanya membodohi dan membohongi rakyat.


0 Response to "Upaya Pembohongan dan Pembodohan Rakyat Melalui #2019gantipresiden"

Posting Komentar