Sebuah pertanyaan tiba tiba muncul di kepala saya sesaat setelah membaca postingan akun twitter Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief. Andi tiba tiba saja kembali melancarkan "serangan" ke kubu koalisinya sendiri. Ia menyebut Prabowo Subianto - Capres yang diusung koalisi Partai Demokrat, Gerindra, PAN dan PKS itu tidak serius bertarung di Pilpres melawan petahana Joko Widodo.
Andi memang nakal dan kerap memusingkan Prabowo. Beberapa jam sebelum pendaftaran Capres/Cawapres ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 10 Agustus silam, mantan staf khusus Presiden SBY itu mencuitkan tudingan bahwa telah terjadi hal yang "tak beres" di tubuh koalisi terkait sikap Prabowo yang tiba tiba menggandeng Sandiaga Uno sebagai Cawapres dan membuat nama yang lebih potensial seperti Agus Yudhoyono tersingkir.
Andi bahkan harus berurusan dengan Bawaslu. Namun sayang proses di Bawaslu berakhir anti klimaks. Kasusnya ditutup tanpa kejelasan.
Pekan lalu Andi kembali berkicau. Kali ini kicauan itu menyebutkan bahwa Prabowo kurang serius berlaga di Pilpres karena tidak aktif berkampanye ke daerah dalam kontestasi Pilpres 2019. Kondisi sebaliknya justru dilakoni oleh Sang Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno yang lebih sering berkeliling daerah menyapa para calon pemilihnya. Sementara Prabowo sendiri justru terlihat tidak bergerak. Itu tergambar dari sepinya pemberitaan media terkait safari politik Mantan Danjen Kopassus itu.
Saya menjadi sepakat dengan Andi. Prabowo mestinya tahu bahwa untuk memenangkan hati pemilih, harus ada kerja politik yang masif. Bertemu konstituen adalah salah satu cara untuk meraih dukungan. Dukungan politik tidak akan di dapat jika hanya berpidato di dan disiarkan televisi atau sekedar menerima kehadiran elit politik yanh menyampaikan dukungan.
Prabowo tentu paham betul cara memenangkan sebuah kontestasi poliitk. Ia harus lebih banyak turun menemui calon pemilih jika ingin menang.
Saya membaca apa yang disampaikan Andi sebagai suatu kritik yang harus diperhatikan oleh koalisi. Prabowo dan partainya tidak harus kepanasan dengan kritikan tersebut. Bukankah sebuah kritik itu datangnya dari dalam.
Andi adalah rekan koalisi Prabowo. Ia bukan lawan politik. Andi dan Demokrat adalah kawan seiring Prabowo di ajang Pilpres. Maka wajarlah jika Andi dan mungkin juga sebagian lain mengkritik sikap Prabowo yang cenderung anteng di Pilpres.
Tak mudah memang menjadi Prabowo disaat seperti ini. Pilpres tahun depan, adalah palagan terakhir Prabowo. Usianya sudah semakin menua. Ia bahkan sudah memupuk harapan dari pendukungnya itu sejak lama. Jadi, wajar jika ada suara yang mengingatkannya bahwa bahwa harapan itu harus dipenuhi dengan bekerja.
Kesan yang selama ini muncul adalah bahwa pertarungan Pilpres ini adalah pertandingan antara Jokowi versus Sandiaga Uno. Sementara Prabowo dan Ma'ruf Amin adalah pendukung saja.
Kritikan Andi harus dipandang sebagai sebuah masukan yang harus mampu membuat Prabowo untuk sering hadir di tengah-tengah masyarakat dan menunjukkan dirinya. Ini penting jika ia ingin dipilih. Kesan yang muncul di tengah masyarakat saat ini adalah Prabowo tidak memiliki keinginan kuat untuk menang.
0 Response to "Capresnya itu Prabowo atau Sandi?"
Posting Komentar