
Memang sungguh asik ketika memang harus berpergian ke luar negeri. Apalagi kalau modalnya dari uang negara, tanpa mengeluarkan sepeserpun, tentu perjalanan ini sangat mengasikkan.
Ternyata dengan kepemimpinan di DKI yang baru menginjak 10 bulan saja, kedua bos-nya Jakarta itu sudah acap kali ke luar negeri.
Bayangkan saja dalam waktu kepemimpinan di DKI saja yang baru 10 bulan , sang Gubernur,Anies, sudah melakukan 3 kali kunjungan kerja ke luar negeri, yakni di Maroko, Turki, dan Los Angeles-Amerika Serikat. Sedangkan Sandiaga sendiri perjalanan kali ini, seperti yang dilansir oleh detik.news.com (2/8/2018), merupakan perjalanan kali yang kelima. Dimana Sandiaga melakukan perjalanan ke Moskow pada Selasa lalu (31/7/2018). Beliau sudah ke Moskow, Arab Saudi, Jepang, Amerika Serikat dan Singapura.
Padahal Jakarta harus segera mempersiapkan event Asian Games dengan sangat baik. Dimana dengan waktu yang hanya tinggal kurang lebih dua minggu lagi dari sekarang, para tamu-tamu dari luar negeri akan segera tiba di Indonesia, khususnya di DKI.
Tapi Sandiaga dengan agenda ke Moskow kali ini sepertinya menjadi sebuah keharusan. Dan Sandiaga tidak kuasa untuk membatalkan atau mengganti ke lain hari untuk kunjungannya tersebut.
Dan yang lebih mengherankan lagi, alasan ke sana hanya karena Pemerintah Kota Moskow sangat tertarik dengan program sistem Ganjil-Genap, yang baru saja dimulai DKI penerapannya. Mereka mengapresiasi penerapan sistem ganjil genap tersebut dan ingin meniru.
Tapi permasalahan transportasi di Moskow bukanlah yang parah-parah amat di dunia. Apalagi jika dibandingkan dengan DKI, yang sudah masuk tahap sekarat. Macet tak tanggung, ditambah lagi dengan kebijakan transportasinya yang sering dirugikan dengan kebijakan pertumbuhan ekonominya, seperti kebijakan masalah tanah abang yang sampai sekarang belum selesai.
Lagipula kesadaran masyarakat Moskow sangatlah tinggi untuk menggunakan transportasi publik. Dikatakan bahwa hampir 8 juta orang setiap harinya menggunakan transportasi umum. Artinya ada sekitar 66 persen dari total 12 juta penduduknya, sudah menggunakan transportasi publik. Berarti permasalahan transportasi di sana hanya tinggal berkisar kurang lebih 30 persen saja yang memang masih menggunakan kendaraan pribadi.
Sedangkan di Jakarta, menurut data BPS tahun 2017, berkisar 10 juta orang. Dimana tingkat kesadaran masyarakatnya menggunakan angkutan publik hanya sekitar 600 ribu orang. Artinya hanya 6 persen saja yang sadar. Sedangkan 90 persen lagi masyarakatnya belum sadar betapa pentingnya angkutan publik.
Dan sekarang sedang menggunakan sistem ganjil genap untuk mengurai masalah kemacetan, yang merupakan biang masalah dalam sistem tranportasi.
Jadi pertanyaannya, yang salut siapa yah? Apakah Pemprov DKI dalam hal ini diwakili Sandiaga Uno, atau pemerintah kota Moskow?
Saya kira ini, hanyalah alasan saja. Supaya bisa menikmati segudang fasilitas kepejabatan ketika sedang melakukan kunjungan resmi kenegaraan. Tapi ya sudahlah. Selamat menikmati sajalah perjalanan di Moskow. Nikmati apa yang ada disana.
Sebuah anggaran tentulah menjadi suatu keniscayaan dan kebutuhan yang harus direalisasikan. Sebab tanpa anggaran mustahil untuk bisa melakukan suatu pekerjaan ataupun suatu proyek. Dan dengan anggaran itu juga tentu akan bisa menilai pekerjaan atau pembangunan yang akan boleh direalisasikan di sebuah kota ataupun daerah.
Tapi tidak begitu dengan hal anggaran perjalanan dinas. Anggaran bidang ini sering menjadi biang manipulasi para pejabat. Alih-alih ingin melakukan studi banding, atau apapun agendanya, adalah sebuah kewajaran jika menambah satu atau dua hari lagi dari perjalanan yang seharusnya dilakukan.
Ditambah lagi sulit untuk bisa mengevaluasi efektivitas dari anggaran ini. Berapa yang sudah terpakai dan apa hasilnya sering tidak diketahui, yang tahu hanya si pejabat dan Tuhan-lah yang tahu.
Pemprov DKI, termasuk yang cukup sukses di dalam pemaksimalan anggaran perjalanan dinas sang pejabatnya. Dimana dengan total anggaran di tahun ini saja, pemprov DKI mengganggarkan sebesar Rp.54,5 miliar. Dengan serapan anggaran yang sudah berhasil dieksekusi sebesar 38,3 persen-nya. Berarti besaran anggarannya tinggal 62 persen lagi yang perlu harus dihabiskan.
Suksesnya eksekusi untuk penghabisan anggaran ini saja, tentu tidak lepas dari perjalanan dinas sang Gubernur DKI maupun sang Wakil Gubernur DKI, Anies dan Sandi.
Jika dibandingkan untuk penyerapan anggaran untuk pembangunan akankah secemerlang penyerapan anggaran untuk perjalanan dinas?
Jadi untuk penyerapan anggaran ini akan sangat excellent bagi pemimpin DKI. Solusi jitunya cuma satu perbanyak saja perjalanan dinas. Toh angka Rp. 54 miliar untuk setahun saja belum tentu habis, dan masih ada lagi anggaran untuk tahun depan. Mari kita nikmati jalan-jalan ini.
0 Response to "Anggaran Dinas DKI ke Luar Negeri Terbaik, Apalagi Moskow Butuh Solusi Ganjil Genap..."
Posting Komentar