
Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Lha kalau ASU mati meninggalkan apa, Cuk?
Apalagi kalau matinya karena kecebur Kali Item dan congornya kena waring terlebih dahulu. Sakno asune.
Ah, itu mah kisah dunia binatang, Cik... Gajah punya kebanggaan gading, harimau belang kulitnya, kalau asu? Mungkinkah asu bangga karena diharamkan Front Pembela Islam (FPI)? Mengikuti Via Vallen, hal itu pikir kéri saja. Sekarang menyimak berita gubernur DKI Jakarta pilihan Jkt58 yang terbongkar boroknya. Dyaarr ora...
Adalah Ketua KASN Sofian Effendi yang akhirnya membandingkan perbedaan Gubernur DKI Anies Baswedan dan pendahulunya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Itu lho Cuk, saat dia merespon pemeriksaan terkait pengaduan pejabat yang dicopot dan dijadikan staf.
KASN pun tanpa tedeng aling-aling menegaskan kalau si Anies melakukan pelanggaran prosedur saat mencopot beberapa pejabat jadi staf. Pasalnya hal itu dilakukan tanpa melalui pemeriksaan. Seperti diketahui, beberapa pejabat yang diturunkan jadi staf adalah mantan Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi dan mantan Kepala Dinas Pendidikan Sopan Adrianto.
Kalau saat Ahok jadi gubernur, pejabat yang diturunkan jadi staf pasti lewat pemeriksaan dulu. Selalu ada bukti pemeriksaan sebagai argumen rasional ketika pejabat harus distafkan. Keren ya Cuk, si Ahok? Beda banget dengan si Anies yang terkesan semau-maunya.
"Pak Ahok dulu kalau kami tegur, dia bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa pergantian itu dilakukan setelah melalui pemeriksaan. Ada buktinya," ujar Sofian, ketika dihubungi wartawan, Senin (30/7/2018).
Hal itu dibongkar Sofian karena si Anies kurang ajar, Cuk. Sofian disebut bersikap politis karena hasil pemeriksaan KASN terhadap perombakan pejabat di DKI disebarkan lewat press release atau siaran pers. Publik layak tahu, mana gubernur sejati dan mana yang gabener berdasarkan kinerja.
Namanya penurunan jabatan hingga pencopotan pejabat, harus dibarengi bukti pemeriksaan. Tidak bisa asal-asalan seperti dilakukan gabener. Lazimnya, namanya pencopotan itu bisa dilakukan karena pejabat tersebut melakukan pelanggaran atau karena alasan tertentu.
Lucunya, ketika ditanya alasan terkait kasus beberapa pejabat yang diturunkan jadi staf, Pemprov DKI memberikan jawaban dengan mengirimkan potongan berita media massa.
"Ada hasil pemeriksaannya yang ditandatangani yang bersangkutan, itu yang seharusnya dijadikan bahan bukti. Nah, sekarang, yang dikirim ke kami cuma guntingan-guntingan koran. Itu kan bukan barang bukti kalau cuma guntingan koran," jelas Sofian.
Seharusnya, Anies itu membuat berita acara pemeriksaan terlebih dahulu terhadap pejabat yang dicopot. Pejabat diperiksa atas pelanggaran apa, itu yang dituang dalam berita acara. Lha ini, guntingan koran dijadikan bukti. Gendengora Cuk? Partai apa yang mencalonkan orang tak bisa kerja, itu. Bendera partai-partai tersebut layak dipakai sebagai selimut asu. Biar kena kencing asu yang najis tra la la la.
Melihat cara ngawur si Anies, KASN pun menyimpulkan bahwa Pemprov DKI telah melanggar prosedur terkait perombakan pejabat. Dengan lantang Sofian mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bisa memberikan alasan pencopotan pejabat yang dilakukan.
"Kalau dari bukti-bukti itu yang bersangkutan memang kinerjanya rendah setelah digaji tinggi, memang boleh diberhentikan atau didemosi," terang Sofian.
Namun demikian, yang namanya pemberhentian juga tidak bisa dilakukan sewenang-wenang. Binatang bernama asu saja kalau kencing tidak sembarangan kok. Masak mencopot pejabat dilakukan seenak udel. Harusnya kan diberi peringatan terlebih dahulu sebelum dicopot. Benar tidak, Cuk?
KASN tepat ketika menilai perombakan pejabat yang dilakukan Anies melanggar prosedur.
"Kami tidak mempersoalkan kewenangan gubernur, gubernur memang mempunyai kewenangan. Tetapi, pemberhentian seorang pegawai juga harus ada alasannya, jangan karena gubernurnya enggak senang, dipecat, diganti begitu saja," tambah Sofian mempertegas.
Jelas sekarang arti pepatah. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Hal yang belum bisa dijawab akhirnya tetap. Kalau asu mati, apa yang layak ditinggalkan, Cak, Cik, Cuk?
Dapat dibayangkan kalau asu tersebut matinya karena terjaring di Kali Item. Lama tidak ditemukan. Baunya seperti apa, coba? Tanpa ada asu mati di sana saja sudah baunya minta pewangi, ini ada asu mati. Mumet ndhasé tenan, Cuk! Lha boroké akhirnya kebongkar juga, kan?
0 Response to "Dyar...! Borok Anies Terbongkar!"
Posting Komentar