Paksaan Cawapres yang Diolok-olok oleh UAS Sendiri

Paksaan Cawapres yang Diolok-olok oleh UAS Sendiri

Ijtima Ulama sudah keluar, dan hasilnya adalah dua paket paslon. Dua-duanya diisi Prabowo sebagai capres, sementara cawapres diisi oleh dua nama yang mereka anggap bisa mewakili ummat—entah ummat yang mana—yaitu Abdul Somad (UAS; penceramah kondang) dan Salim Segaf al Jupri (elite PKS).

Di antara kedua nama ini, nampaknya netizen yang anti-Jokowi jauh lebih mendukung UAS ketimbang Salim Segaf yang—harus diakui—enggak popular di kalangan penonton ceramah di Youtube. Awalnya saya cukup mengantisipasi juga jawaban UAS. Selama ini ia manut kepada Rizieq Shihab—yang kita tahu getol banget ngincer kekuasaan. Mengingat hal itu, saya pikir UAS akan menjawabnya sebagaimana normatifnya: ya, kalau ummat/bangsa memanggil, harus siap (kan biasanya gitu).


Tak lama setelah pengumuman itu, UAS langsung merespons anjuran itu di dalam ceramahnya di Semarang. Ia meminta didoakan supaya tetap istiqomah di jalan dakwah sampai mati. Menurut saya, itu sudah jawaban yang sangat tegas dari UAS. Ia juga menambahkan bahwa ia bukannya menolak, tetapi masih banyak yang lebih layak. Ia juga mengutip Asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i rahimahullah :

“Apabila satu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

Ternyata di balik ceramah-ceramahnya yang tidak netral itu, ada juga setitik kesadaran diri, bahwa ia tahu ia bukan ahlinya di bidang politik dan mengatakan masih banyak yang lebih mampu. Untuk itu, saya cukup apresiasi sikap UAS tersebut. Bahkan dengan gaya khasnya, UAS malah mengolok-olok rekomendasi cawapres itu seperti pembukaan ceramahnya di Semarang: “…begtu turun dari pesawat, TNI, Polri, saya heran, kok sambutannya seperti wakil presiden,” ucapnya disambut tawa audiens. Artinya, UAS tahu betul kalau rekomendasi itu seperti candaan politik yang tidak perlu ditanggapi serius.

Lalu, apa masalahnya?

Masalahnya, tentu saja, para pendukungnya bukanlah kaum yang mudah diberikan penjelasan. Padahal yang menolaknya bukan orang lain, tetapi UAS sendiri. Kalau mereka memang menghargai penceramah ini, kenapa masih mau dipaksa-paksa?


Sikap beginian mungkin sudah mendarah daging kepada mereka. Masih ingat GNPF MUI, apa itu singkatannya? Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI, tetapi apakah mereka mengindahkan kata-kata Ma’ruf Amin (Ketua MUI) ketika mengatakan tidak usah demo-demo lagi? Maafkan saja Ahok?

Enggak! Dan yang lucunya, aksi mereka masih menggunakan nama GNPF MUI padahal seruan Ketua MUI sendiri tidak mereka dengarkan.


Jadi, adalah wajar kalau tekanan tersebut bermunculan ke UAS. Mulai dari Amien Rais sampai Salim Segaf sendiri. Amien Rais mengatakan kalau pasangan Prabowo-UAS jauh lebih nendang ketimbang Prabowo-Salim Segaf. Tak lama kemudian Arifin Ilman mengupload video suara (yang saya temukan sih cuma video suara) yang isinya membujuk UAS supaya mau menerima rekomendasi GNPF, lengkap dengan suara mengiba dan sapaan “Abang Uas” yang muncul berkali-kali. Oiya, Arifin juga dengan cute-nya menyebut dirinya sendiri dengan “Arifin”, bukan “saya/aku”. Kekinian banget nih Bro Arifin :D

Yang tidak mungkin diam, tentu saja, Sugi Nur. Meskipun begitu nampaknya ia tidak terlalu memaksakan dan mengajak para pendukung UAS untuk menghargai keputusannya. Dari kalangan nonulama, suara juga muncul dari Ratna Sarumpaet yang mengajak orang untuk menghargai keputusannya. Selain itu, ada Mulyadi, seorang utusan Gerindra yang katanya bersiap untuk melakukan pertemuan dengan UAS untuk membahas tentang rekomendasi GNPF. Tetapi, bukan untuk ikut memaksa UAS, tetapi untuk melobi UAS supaya mau bertemu dengan Prabowo. Besar kemungkinan mau menjadikannya tim pendukung Prabowo untuk pilpres 2019, apalagi mereka juga bisa berdalih bahwa ini adalah arahan para ulama, dan dengan begitu mereka berharap UAS akan sungkan untuk menolak tawaran Gerindra untuk menjadi pendukung Prabowo dan pasangannya nanti.

Untuk mempertegas keputusannya, UAS malah mengupload gambar/poster pasangan duet maut Prabowo-Salim Segaf di akun istagramnya untuk menunjukkan dukungannya terhadap hasil ijtima GNPF. Meskipun tekanan itu tetap ada, saya sih berharapnya UAS tetap istiqomah pada keputusannya. Meskipun ia tidak merasa, sesungguhnya ia selama ini digunakan oleh pihak anti-Jokowi untuk menyerang pemerintah. Dan, sama seperti TGB, ia menolak untuk dicalonkan oleh GNPF maupun PA 212. Cukuplah “kalian” dipake untuk tujuan politik.

Dari kaca mata politisi, saya yakin mereka justru senang ketika UAS terang-terangan menolak. Oposisi saat ini sedang rebutan cawapres dan saya yakin mereka ingin yang menjadi cawapres adalah salah satu dari elite partai yang tersisa—PKS, PAN, dan Demokrat. Pilpres 2019 itu krusial sekali dampaknya terhadap partai, maka mana mungkin mereka memberikan tiket berharga itu untuk orang yang ada di luar partai. Enak banget? Yang capeknya orang partai kok. Belum lagi, kalau menang, mereka belum tentu bisa mengontrol calon yang bukan dari rombongan mereka ini. Mereka butuh sebanyak mungkin dukungan dari luar, tetapi bukan untuk mengisi posisi paslon.

Kerinduan untuk menjadikan ulama sebagai pemimpin negeri ini memang sudah menggebu-gebu di banyak kalangan fanatis, sayangnya mereka ini enggak melek politik. Sekeras apa pun kalian mencoba, parpol itu tidak akan pernah memberikan tempat untuk agamawan di panggung tertinggi. Politik itu milik parpol, mana mungkin mereka mau kasih ke orang lain.

Kalian hanya di-PHP-in oleh para elite parpol itu, karena pada akhirnya, tetap saja yang maju itu orang mereka sendiri.


0 Response to "Paksaan Cawapres yang Diolok-olok oleh UAS Sendiri"

Posting Komentar