Jika kita boleh menempatkan seorang Ketum partai berbasis Islam sebagai representasi umat Islam secara umum, maka demikianlah kira-kira yang ditunjukkan oleh Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra.
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyebut calon presiden petahana, Joko Widodo, sakti mandraguna karena memilih KH Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya. KH Ma'ruf Amin dinilai sosok yang merepresentasikan ulama.
"Pak Jokowi kan sudah merasa sakti mandraguna, karena dalam filosofi jawa ada 'kesatrio penandito kasanding ulama' sudah sakti beliau sekarang," kata Yusril saat ditemui di PN Jakarta Pusat, Senin (13/8), sumber : Ksatrio Penandito ala Yusril IM.
Pernyataan Yusril ini sepintas seperti sedang mengangkat citra Jokowi yang berhasil menyandingkan dirinya dengan seorang ulama yang bercitra tinggi. Namun dari susunan kalimat beikutnya barangkali dia justru sedang menyindir. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan kata “merasa sakti mandraguna”.
Kesimpulannya, Yusril mengilustrasikan Jokowi masih dalam tahap memposisikan diri, dan bukan karena pengakuan publik, bahwa dia merupakan seorang ksatria penandito.
Bolehlah apapun yang ingin diucapkan untuk memberi label kepada Jokowi, sah-sah saja sepanjang tidak ada aturan yang melarangnya. Namun cukup menarik juga jika kita membahas dan menebak, kira-kira motivasi apa yang melatarbelakangi pernyataannya.
Barangkali Yusril sedang mengekspresikan kekecewaannya, seperti juga disampaikan oleh Ketua GNPF Ulama pada saat deklarasi pasangan Prabowo-Sandiaga Uno sebagai capres-cawapres kubu Gerindra.
Sebagai partai berbasis Islam tentu saja Yusril beserta partai-partai lain yang sepaham, merasa dikadali oleh dinamika menjelang deklarasi dan pendaftaran pasangan capres-cawapres. Dan akibatnya, hingaa saat inipun partai Bulan Bintang yang dipimpinnya belum menentukan arah dukungannya.
Meskipun suara dukungan dari PBB tidak berpengaruh apapun kepada kedua kubu, jika dilihat dari tingkat perolehan suara pada Pemilu 2014, yang menjadi syarat bagi partai pengusung, namun dengan kecenderungan arah dukungan oleh PBB, minimal konstituen mereka memiliki acuan sosok mana yang akan dipilih pada ajang kontestasi pilpres nanti.
PBB yang saat ini belum menentukan sikap dukungan dalam Pilpres 2019, merasa masih bingung. Sebab dalam hasil rapat ijtimak ulama yang direkomendasikan dua ulama yakni Ustad Abdul Somad dan Salim Segaf Aljufri, Prabowo malah tidak memilih keduanya. "Jadi kita umat Islam bingung, karena itu PBB sampai hari ini menempati posisi masih di tengah," ucap Yusril.
Melihat ekspresi yang terbaca dari ungkapan kekecewaan Ketum PBB di atas, bisa jadi merupakan indikasi umum yang sedang terjadi di kalangan umat Islam. Mereka berasumsi, guyubnya umat Islam haruslah ditunjukkan dengan keterwakilan tokoh dan panutan mereka dalam sosok yang dipilih pada pasangan capres-cawapres.
Kalau sebelumnya mereka gencar menyuarakan dukungan kepada gerakan Ganti Presiden, adalah semata-mata merupakan wujud dukungan kepada tokoh Islam yang membawa agenda tersebut. Namun belakangan agenda mereka menjadi bias, karena sosok yang diusung tidak sesuai dengan rekomendasi para ulama.
Ironisnya justru sebaliknya Jokowi yang terlanjur dinilai lebih cerdas oleh pimpinan mereka di GNPF Ulama. Meskipun ungkapan itu terkesan spontanitas, namun tampaknya hal itu merupakan cermin kejujuran yang muncul dari lubuk hatinya.
Dengan masih menundanya dukungan kepada salah satu pasangan calon, PBB kini boleh dikatakan menjadi satu-satunya partai yang tersisa, yang setia kepada Ijtimak Ulama. Sekaligus sebagai satu-satunya partai peserta Pemilu 2019, yang belum menjatuhkan dukungan.
Oleh karena itu, PBB masih menunggu hasil ijtimak ulama jilid 2 terkait langkah Prabowo yang menggaet Sandiaga Uno sebagai cawapares lantaran latar belakang Sandi bukan dari kalangan ulama. "Kalau ijtimak ulama jilid 2 ini hasilnya lain, kan jadi pertimbangan juga," paparnya.
Perhelatan Ijtimak ulama jilid 2 yang santer disuarakan oleh Imam besar versi mereka, belum lagi diagendakan secara tegas, tetapi akan menjadi acuan bagi partai Bulan Bintang. Pertanyaannya tidak kalah mengelitik, jika ternyata ijtimak nanti tetap mendukungan pasangan Prabowo-Sandiaga, maka orientasi mereka untuk merekomendasikan sosok ulama sebagai peserta pilpres, akan gugur dengan sendirinya.
Jika dugaan tersebut benar, maka tinggallah PBB sendiri yang harus memutuskan, memilih rekomendasi ijtimak ulama, yang tidak lagi berorientasi seperti tujuan awal, atau berbalik arah, karena pertimbangan di kubu itu ada sosok ulama yang patut didukung ?
0 Response to "Sindiran Yusril yang Jujur, Akui Jokowi Sudah Sakti"
Posting Komentar