Terbongkar!!! GNPF-Ulama Dan Ijtimanya Hanya Mainan Prabowo-Sandi


Terbongkar!!! GNPF-Ulama Dan Ijtimanya Hanya Mainan Prabowo-Sandi

Beredarnya video Haikal Hasan terkait strategi politik pemilihan cawapres Prabowo seharusnya membuka mata hati dan akal sehat kita bahwa mulut manis Prabowo hanyalah kebohongan semata. Prabowo dan GNPF-Ulama tidak benar-benar mau memberikan kesempatan kepada ulama untuk mencari cawapres, melainkan hanya untuk mencari alasan memojokkan Jokowi dan koalisinya.

Dalam video tersebut menyatakan bahwa ijtima ulama itu hanyalah skenario politik. Mereka mempertontonkan drama bahwa Prabowo meminta rekomendasi dari ulama. Ternyata hanya untuk mengelabui lawan politik agar ikut memilih cawapres dari kalangan ulama. Setelah Jokowi memilih ulama, maka saat itulah narasi dibangun bahwa mereka tidak mau mengadu ulama.


Padahal sebelumnya GNPF-Ulama, PAN dan PKS mendesak Prabowo agar memilih cawapres dari ijtima ulama. PKS mengancam akan abstain. FPI mengancam akan cabut dukungan. GNPF-Ulama mengancam akan menarik dukungan. Semua itu hanya bohong.


“Yah, semua yah. Prabowo mesti ulama, Prabowo-Ulama terus gaungkan di situ. Supaya apa? Supaya pihak sono pasti bakal, wah…. Mesti ulama juga ni, mesti ulama juga ni, gitu. Ntara begitu dia ulama, calon kita yang asli baru kita tampilkan. Ingat jangan sampai kita ambil Ulama, akan dibuli kita rame-rame. Pasti meraka akan mebulli, “Ulama jangan ikut-ikutan donk, ulama…. MUI mesti netral donk, harus netral. Biarin aja begitu. Semua gaugkan. Prabowo-Ulama semua gaungkan, semua gaungkan. Ntar biar dia dulu. Yakin pasti pihak sana akan mengambil ulama sebagai wakil. Di situlah baru biar mereka menjilat ludah mereka sendiri. Biarkan kita mainkan strategi ini. Kalau perlu kita ada ijtima, pura-pura ulama dukung, pokoknya terus saja begitu. InsyaAllah, begitu mereka ambil ulama wakilnya, wakil kita yang sebenarnya yang kita simpan, harus keluar. Itu wakilnya, ngerti kan?” (Haikal Hassan)

Lalu mereka membangun narasi bahwa Jokowi memainkan politik identitas dan mau mengadu umat Islam dengan memilih Ma'ruf Amin. Mereka juga menggiring opini bahwa Jokowi meletakkan beban terlalu berat di pundak ulama. Jokowi menunggangi ulama. Jokowi memanfaatkan ulama. Pokoknya Jokowi salah memilih cawapresnya.

Maka dengan menempatkan ulama hanya untuk menggiri opini dan membangun narasi kejam nan biadab itu, tampaklah keulamaan hanyalah mainan politik bagi Prabowo. Teriakan dekat dengan ulama, mendengarkan ulama, menghargai pendapat ulama dan sebagainya itu tidak lain hanya kebusukan. Bagi Prabowo, ulama itu tidak lebih dari sekedar alat. Sama seperti kloset yang hanya digunakan untuk buang hajat.

Sudah seperti itu, ulamanya malah senang-senang saja. Prabowo menolak ulama, mereka senang. Prabowo mempermainkan, malah mereka bahagia. Apakah karena kebencian mereka kepada Jokowi sampai mereka mau direndahkan? Apakah karena nafsu kekuasaan, mereka dianggap tidak lebih dari pada kloset WC? Atau apakah mulut dan hati mereka sudah dibeli? Serendah itukah keulamaan di mata HRS, UAS, Aa Gym, SAS, dan lain sebagainya?

Apakah Jokowi masuk jebakan?

Strategi politik Prabowo salah alamat. Jokowi memilih Ma'ruf bukan tanpa pertimbangan. Ada alasan krusial bagi Jokowi. Jokowi ingin mengakhiri politik SARA. Demi Indonesia, Jokowi harus bergandengan dengan pemuka agama Islam, yang notabene dijadikan alat oleh sebelah untuk mengadu domba umat dengan pemerintah. Dengan memilih Ma'ruf, maka politik SARA selesai.


Mereka lupa bahwa Jokowi menjaring aspirasi umat Islam dalam menentukan cawapres. Rencana pemilihan cawapres dari kalangan ulama berkualitas sudah sejak dulu dikerjakan. Melalui pertemuan dengan para ulama. Melalui pertemuan dengan generasi muda Islam di pesantren-pesantren. Melalui dialog para politisi partai terhadap kader dan simpatisan mereka masing-masing.

Mungkin nama belum ditentukan, tetapi dari kalang ulama sudah tampak jauh-jauh hari sebelumnya. Drama pemilihan Mahfud di awal-awal pun adalah sinyal bahwa Jokowi akan memilih cawapres dari kalangan ulama dan pemimpin umat Islam.


Narasi mereka terlalu memandang umat Islam terlalu rendah pemahaman dan labil emosinya. Umat Islam sudah cerdas dalam menanggapi politik. DKI adalah bukti bahwa seorang tersangka penista agama Islam pun masih dipilih sebagai pemimpin dengan pertimbangan kualitas. Artinya, 30 % warga DKI tidak percaya Ahok menista agama dan kasus itu hanyalah alat politik untuk menjatuhkan Ahok saja.

Kasus penistaan saja sudah tidak dipercaya murni kasus penistaan melainkan politik biadab. Itu Ahok loh, si kafir. Apalagi hanya narasi Jokowi mengadu umat dan menunggangi Ulama, mereka tidak akan percaya. Narasi seperti itu hanya akan menghantam Prabowo saja.

Justru umat Islam sekarang paham siapa sebenar-benarnya Jokowi yang selama ini dituduh kriminalisasi ulama, benci Islam dan anti-Islam. Mereka tahu sekarang bahwa Jokowilah sebenar-benarnya pemimpin yang paling dekat dengan Islam dan para ulamanya. Sementara sebelah hanya menganggap ulama tidak lebih seperti kloset, tempat buang kotoran.

Penumpang gelap - HTI dan ormas radikal - di kubu Prabowo pun tidak akan maksimal lagi. Selama ini bani tagar 2019 ganti presiden, ganti sistem masih bebas menuduh Jokowi zolim, sekarang ruang fitnah mereka semakin sempit. Ma'ruf Amin membentengi Jokowi dari fitnah-fitnah keji. Kalau masih mau coba-coba, mereka akan berbenturan dengan keulamaan Ma'ruf. Masak ulama sekaliber Ma'ruf mau bergandengan dengan kezoliman? Itu sama saja menuduh Ma'ruf sebagai orang zalim juga.

Siapa yang akan percaya Ma'ruf Amin sebodoh yang Prabowo dkk kira? Bagaimana mungkin ulama sekaliber Ma'ruf bersekutu dengan kezaliman? Hanya setan dan penjahat saja yang akan beranggapan seperti itu.


0 Response to "Terbongkar!!! GNPF-Ulama Dan Ijtimanya Hanya Mainan Prabowo-Sandi"

Posting Komentar