
“Saya diperintah partai untuk menyatakan ini (membongkar mahar 500 M untuk PKS dan PAN),” kata Wasekjen Demokrat, Andi Arief.
Satu jawaban dari Wasekjen Demokrat ini cukup mengagetkan. Sehingga semua klaim dan bantahan bahwa Andi Arief mewakili pribadinya sendiri adalah klaim yang salah. Pernyataan tersebut jelas merupakan pernyataan resmi Demokrat melalui Andi Arief.
Lalu, jika ini merupakan pernyataan resmi Demokrat, narasi politik apa yang coba dimainkan? Mengingat sampai saat ini kasus mahar 500 M untuk PAN dan PKS ini masih berlanjut. Nampak tak ada rekonsiliasi antar ketiga partai, bahkan PKS dan PAN akan membawa Wasekjen Demokrat ke ranah hukum.
Bagi Demokrat, suap 500 miliar untuk PAN dan PKS yang dibayarkan oleh Sandiaga demi bisa menjadi Cawapres adalah suatu berkah tersendiri. Meskipun mereka gagal mengusung AHY, namun kasus suap 500 miliar ini bisa dijadikan materi kampanye hitam yang dapat menyerang posisi PAN dan PKS. Sehingga calon-calon legislatif dari dua partai ini mungkin akan mengalami penurunan. Selain itu narasi politik dizolimi dapat terus dimainkan, AHY sebagai korban.
Untuk itu, kasus suap 500 miliar ini rasanya akan terus dimainkan sampai hari H pemilihan. Supaya Demokrat mendapat limpahan suara dari pemilih PAN dan PKS yang dicitrakan telah menerima suap, partai bisa dibeli.
Demokrat sudah kadung kecewa dengan pilihan Prabowo. Berkali-kali mengadakan pertemuan tertutup, tapi ujungnya kardus juga. Memilih orang yang mau bayar mahal. Sehingga kekecewaan ini jelas harus ada harganya.
Inilah kenapa Wasekjen Demokrat akan terus membongkar sedetail-detailnya soal sogokan 500 miliar kepada PAN dan PKS. Membuka ke publik bahwa yang membocorkan perihal suap tersebut adalah orang-orang ring satu Gerindra, Fadli Zon dkk.
Bagi Demokrat, hanya Pileg saja yang menjadi fokus utamanya. Bagaimana kader-kadernya dapat mengangkat suara partai. Soal Pilpres, mereka sudah tak punya kepentingan apa-apa. Mereka tidak mungkin mendukung Prabowo, karena walau bagaimanapun Prabowo telah menghianati koalisi.
Menurut informan Seword, Demokrat sempat bertemu dengan koalisi Jokowi malam hari jelang deklarasi Prabowo Sandi. Saat itu Demokrat menawarkan opsi untuk mendukung Jokowi. Inilah kenapa malam itu Demokrat tidak hadir dalam deklarasi Prabowo Sandi.
Namun jawaban pihak koalisi terhadap Demokrat adalah kira-kira begini “Jika Demokrat ingin bergabung dan masuk koalisi, semua pimpinan Parpol harus rapat lagi. Saya rasa sudah tidak ada waktu untuk itu.”
Bahwa kemudian Demokrat keesokan harinya menerima Prabowo dan menyatakan mendukung Prabowo Sandiaga, ya itu opsi terakhir. Ibarat memberi kunci kendaraan, tanpa arah dan tujuan. Karena jika Demokrat tidak mengusung atau mendukung Capres Cawapres, mereka tidak bisa ikut pemilu 2024. Jadi ya Demokrat terpaksa mendukung Prabowo Sandi, karena kebetulan partai koalisi masih mau menerimanya.
Tapi apakah Demokrat benar-benar akan membantu Prabowo Sandiaga untuk menang di Pilpres 2019? Itu lain hal. Kekecewaan luar biasa karena Prabowo tidak mengambil AHY sebagai Cawapresnya tidak akan hilang begitu saja. Ini soal marwah!
Dan saya pikir inilah kenapa Demokrat seolah membiarkan Wasekjennya terus berkicau tanpa ada teguran. Sambil sesekali membantah bahwa itu bukan sikap partai. Padahal sejatinya itu tugas khusus dari partai untuk Andi Arief, untuk menghancurkan suara pileg PAN dan PKS, serta memastikan kekalahan Prabowo Sandiaga.
Jadi kesimpulannya, bisa dibilang koalisi Prabowo ini sangat rapuh dan oportunis. Di satu sisi Gerindra ingin menang sendiri dengan mengusung Capres Cawapres dari kubunya sendiri. Di sisi lain PAN dan PKS yang selama berbulan-bulan memperjuangkan kadernya, tidak dilirik sama sekali oleh Prabowo. Sementara Demokrat sang partai penggembira tidak akan pernah gembira. Fokus mereka mulai hari kemarin adalah mendapatkan limpahan suara PAN dan PKS dengan terus menyerangnya sebagai partai penerima suap rekom Cawapres.
Kita tentu saja berharap agar nuansa cakar-cakaran ini jangan cepat berlalu. Kalau bisa terus berkembang dan tambah panas. Sehingga ujungnya masyarakat muak dengan PKS dan PAN, serta tidak juga memilih Demokrat yang hanya bermodalkan serangan 500 miliar.
Sungguh tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat PAN dan PKS tidak lolos ke senayan. Seperti yang sudah diprediksi oleh beberapa lembaga survey. Sehingga tahun depan kita tidak lagi melihat politisi model Fahri di DPR.
Bahwa kemudian Demokrat keesokan harinya menerima Prabowo dan menyatakan mendukung Prabowo Sandiaga, ya itu opsi terakhir. Ibarat memberi kunci kendaraan, tanpa arah dan tujuan. Karena jika Demokrat tidak mengusung atau mendukung Capres Cawapres, mereka tidak bisa ikut pemilu 2024. Jadi ya Demokrat terpaksa mendukung Prabowo Sandi, karena kebetulan partai koalisi masih mau menerimanya.
Tapi apakah Demokrat benar-benar akan membantu Prabowo Sandiaga untuk menang di Pilpres 2019? Itu lain hal. Kekecewaan luar biasa karena Prabowo tidak mengambil AHY sebagai Cawapresnya tidak akan hilang begitu saja. Ini soal marwah!
Dan saya pikir inilah kenapa Demokrat seolah membiarkan Wasekjennya terus berkicau tanpa ada teguran. Sambil sesekali membantah bahwa itu bukan sikap partai. Padahal sejatinya itu tugas khusus dari partai untuk Andi Arief, untuk menghancurkan suara pileg PAN dan PKS, serta memastikan kekalahan Prabowo Sandiaga.
Jadi kesimpulannya, bisa dibilang koalisi Prabowo ini sangat rapuh dan oportunis. Di satu sisi Gerindra ingin menang sendiri dengan mengusung Capres Cawapres dari kubunya sendiri. Di sisi lain PAN dan PKS yang selama berbulan-bulan memperjuangkan kadernya, tidak dilirik sama sekali oleh Prabowo. Sementara Demokrat sang partai penggembira tidak akan pernah gembira. Fokus mereka mulai hari kemarin adalah mendapatkan limpahan suara PAN dan PKS dengan terus menyerangnya sebagai partai penerima suap rekom Cawapres.
Kita tentu saja berharap agar nuansa cakar-cakaran ini jangan cepat berlalu. Kalau bisa terus berkembang dan tambah panas. Sehingga ujungnya masyarakat muak dengan PKS dan PAN, serta tidak juga memilih Demokrat yang hanya bermodalkan serangan 500 miliar.
Sungguh tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat PAN dan PKS tidak lolos ke senayan. Seperti yang sudah diprediksi oleh beberapa lembaga survey. Sehingga tahun depan kita tidak lagi melihat politisi model Fahri di DPR.
Begitulah kura-kura
0 Response to "Ternyata Demokrat Ditolak Koalisi Jokowi, Terpaksa Gabung Kardus dan Kasus 500 M"
Posting Komentar