Terima Kasih Presiden Jokowi Yang "Memuliakan" Nasib Atlet Indonesia



Alhamdulillah, acara olah raga Asian Games sudah selesai diadakan di Indonesia sejak tanggal 18 Agustus sampai dengan tanggal 2 September 2018. Secara keseluruhan kegiatan ini berlangsung aman dan lancar. Indonesia juga dianggap sukses menggelar pesta olah raga untuk negara di Asia tersebut.

Dimulai dengan acara pembukaan Asian Games (Opening Ceremony) yang spektakuler dan mendapatkan pujian luar biasa baik dari dalam maupun luar negeri dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan millenial.


Apalagi, dalam pembukaan tersebut Presiden Jokowi menggunakan motor sehingga menjadi trending topic di Korea. Sumber

Tidak heran, jika orang di luar negeri dan media luar negeri memuji pembukaan Asian Games di Indonesia seperti yang dimuat dalam situs :

https://www.bola.com/asian-games/read/3622381/netizen-korea-terpukau-dengan-tari-ratoh-jaroe-pada-pembukaan-asian-games-2018

https://www.jawapos.com/asiad-2018/20/08/2018/pujian-media-asing-terhadap-opening-ceremony-asian-games-2018

Dan kemarin malam adalah acara penutupan acara Asian Games yang tetap mendapat pujian dari banyak media luar negeri seperti yang dilansir dalam situs https://www.jpnn.com/news/indonesia-sukses-gelar-asian-games-media-asing-puji-jokowi

Bahkan Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA), Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Ahmed Al-Sabah memberikan selamat kepada Indonesia sebagai tuan rumah karena sukses menyelenggarakan even ini.

"Anda mengangkat energi Asia," kata Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah, Presiden Dewan Olimpiade Asia kepada massa yang memenuhi Gelora Bung Karno.

"Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang, energi Asia, merupakan sukses bersejarah," tambahnya seperti yang dimuat dalam situs https://www.bbc.com/indonesia/olahraga-45390992

Kesusksesan ini tidak lain adalah hasil kerja keras Presiden Jokowi dan jajarannya yang serius mempersiapkan ajang olahraga ini secara serius dan matang dengan membangun semua infrastruktur yang akan mendukung event ini.

Dan hasilnya pun tidak sia-sia, Roy Suryo, elit Demokrat dan Sandiaga Uni, capres dari Geeindra, PKS dan koalisinya yang sebelumnya pesimis dengan prestasi Indonesia akhirnya bungkam !

Indonesia berhasil menjadi posisi 4 besar di bawah China, Jepang dan Korea dalam event olahraga di tingkat Asia ini dengan perolehan 98 medali yang terdiri dari 31 medali emas, 24 medali perak dan 43 medali perunggu. Perolehan medali Indonesia ini 5 kali lipat dibandingkan Asian Games tahun 2014 di Incheon, Korea Selatan yang hanya mampu meraih 4 medali emas, dan Asian Games 2010 di Guangzhou, China dimana Indonesia juga hanya mampu meraih 4 medali emas.

Perolehan medali emas Indonesia di Asian Bames kali ini membuktikan bahwa Indonesia terbaik di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Hal ini membuktikan bahwa Presiden Jokowi adalah pemimpin yang revolusioner dan optimis bukan seperti Prabowo yang pesimis dengan masa depan Indonesia dengan mengatakan Indonesia akan bubar pada tahun 2030 menurut novel karangan !

Setelah sukses dengan even olahraga internasional di Asia ini, Presiden Jokowi juga tidak lupa untuk "memuliakan" para atlet yang sudah berjuang dengan keras untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia.

Presiden Jokowi menggelontorkan 210 miliar kepada semua atlet yang sudah berjuang dalam Asian Games. Peraih medali emas diberikan bonus Rp1,5 miliar untuk nomor tunggal. Adapun untuk pasangan atau berganda, meraih Rp1 miliar perorang dan Rp750 juta per orang untuk beregu. Bagi mereka yang berhasil meraih emas, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimulyono, akan memberikan rumah tipe 36 seharga Rp70-100 juta.

Bukan hanya atlet yang berbahagia, Para pelatih juga mendapa bonus pada kesempatan kali ini. Bagi pelatih beregu yang mendapat emas dihadiahi Rp600 juta, Rp200 juta untuk perak, dan Rp100 jua untuk perunggu. Untuk setiap medali kedua dan seterusnya diberikan Rp225 juta untuk emas, Rp75 juta untuk perak, dan Rp37,5 untuk perunggu.

Bagi peraih medali perak, bonus untuk atlet tunggal senilai Rp500 juta dan Rp400 juta untuk perak, dan Rp300 juta untuk perunggu, bahkan setiap atlet yang tidak mendapatkan medali juga diberikan 20 juta per orang. Belum lagi kesempatan lainnya seperti pengangkatan sebagai PNS, pembangunan rumah dan bonus lainnya dari pihak swasta yang memberikan 100 gram emas per orang kepada periah medali emas di Asian Games.

Alhamdulillah, betapa tingginya penghargaan kepada atlet nasional di masa pemerintahan Presiden Jokowi ini, sangat jauh berbeda dengan nasib para atlit nasional di masa sebelumnya. jujur, penulis sangat merasa sedih begitu mengetahui nasib para atlet nasional di masa sebelum Presiden Jokowi memimpin...

Mari kita lihat sekilas tentang nasib pilu atlet nasional di masa sebelumnya, antara lain : Sumber

*Amin Ikhsan (Senam)Mantan pesenam nasional ini harus hidup memprihatinkan setelah rumahnya di kawasan Kiaracondong, Kelurahan Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung digusur oleh Pemkot Bandung pada Agustus 2015.

Untuk bertahan hidup, mantan pesenam yang pernah berada di urutan ke-7 kejuaran dunia tahun 2003 di Tokyo, Jepang ini harus menjual barang-barang rongsokan dari sisa bangunan yang telah dirobohkan.


Anang Ma'ruf (Sepak Bola)

Karena alasan ekonomi, mantan bek kanan Persebaya dan Timnas Indonesia di dekade 1990-an ini menjadi pengendara ojek online, padahal beliau pernah mempersembahkan medali perak di ASEAN Games 1997 dan medali perunggu pada ASEAN Games 1999.

Marina Segedi (Pencak Silat)

Mantan atlet pencak silat ini pernah mempersembahkan medali emas saat SEA Games di Filipina, 1981, tetapi setelah pensiun, beliau harus berjuang keras membanting tulang dengan berprofesi menjadi sopir taksi.

Suharto (Balap Sepeda)

Beliau adalah atlet balap sepeda nasional asal Surabaya yang kini justru berprofesi sebagai tukang becak, padahal beliau pernah merebut medali emas pada SEA Games 1979 di Malaysia untuk nomor Team Time Trial jarak 100 kilometer, bersama tiga rekannya. Suharto juga sempat mewakili Indonesia di ajang Tour d'Thailand pada 1977 silam.

*Hasan Lobubun (Tinju)

Hasan Lobubun adalah mantan petinju juara nasional kelas Bantam Junior di tahun 1987. Kini ia harus menjalani hidup yang sangat tragis, mencari rezeki dengan mengais-ngais di tempat sampah dan tumpukan barang-barang bekas di Jakarta.

Lenni Haeni (Dayung)

Lenni bekerja sebagai buruh cuci dan serabutan usai pensiun, padahal beliau dulu pernah menyabet 20 medali untuk Indonesia. Di antaranya di SEA Games Jakarta 1997, ia menyabet 3 medali emas dan 1 medali perak. Sejak menjadi atlet, pendidikan Leni terbengkalai, meski dulunya sempat dijanjikan kehidupannya dijamin oleh KONI.

Ellias Pical (Tinju)

Beliau pernah mengharumkan nama Indonesia di ajang tinju sejak kemenangannya di Kejuaraan OPBF pada 19 Mei 1984 dan beliau berhasil menjadi petinju profesional pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar Internasional di luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, petinju yang gantung sarung pada 1989 ini mulai dilupakan. Bahkan pada 2005 ia sempat tersandung kasus kriminal ketika menjadi satpam sebuah tempat hiburan. Di kemudian hari Pical direkrut sebagai staf di KONI.

Tati Sumirah (Bulu Tangkis)

Beliau pernah mengharumkan nama Indonesia pada tahun 1975 dengan mengantarkan tim bulutangkis single putri meraih Piala Uber Indnesia untuk kali pertama. Bahkan beliau juga sering menyabet emas di arena PON. Setelah gantung raket pada tahun 1981 berpuluh-puluh tahun Tati bekerja sebagai seorang kasir di sebuah apotek.

Jatmiko (Angkat Besi)

Mantan juara lifter nasional kini malah menjadi buruh pabrik. Selepas pensiun dari atlet, Djatmiko bekerja sebagai kuli di pabrik bambu, berjarak sekitar 50 meter dari Terminal Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Denny Thios (Angkat Besi)

Denny adalah Juara Dunia Angkat Besi Era 90-an asal Sulawesi Selatan. Beliau pernah meraih emas kejuaraan angkat berat Asia di Taiwan tahun 1990, meraih perunggu kejuaraan dunia di Belanda dan Australia tahun 1990, serta tahun 1993 meraih emas kejuaraan angkat berat dunia di Swedia. Setelah pensiun, beliau pemilik bengkel las.

Itulah secuil kisah pilu mantan atlet nasional di masa sebelum Presiden Jokowi memipin Indonesia saat ini, jadi masih mau milih pemimpin lainnya yang belum terbukti ???

Mending milih #JokowiLagi

Wassalam,



0 Response to " Terima Kasih Presiden Jokowi Yang "Memuliakan" Nasib Atlet Indonesia"

Posting Komentar