Tak Kunjung Serahkan Kursi Wagub DKI, Kader PKS Ancam Tidak Ikut Kampanyekan Prabowo

Tak Kunjung Serahkan Kursi Wagub DKI, Kader PKS Ancam Tidak Ikut Kampanyekan Prabowo

Politik itu memang benar tidak ada kata teman dan lawan, tetapi dibalik itu, ternyata politik juga soal menang-menangan dan perang dingin bahkan di antara mereka yang satu koalisi.

Yang menyedihkannya, adalah parpol yang kredibilitasnya rendah, mau tidak mau akan terus dipaksa “kerja bakti” tanpa diberikan kesempatan untuk berkuasa. Tidak semua parta besar “sekejam” itu, tetapi jika terdesak, lebih kejam dari itu pun bisa.


Kita tahulah bagaimana hubungan baik Gerindra dan PKS selama ini, yang kita ketahui dari media massa. Sejak Pilpres 2014, tidak pernah kedua partai itu berpisah bahkan dalam keadaan bagaimanapun. Bahkan sempat tinggal mereka berdua yang menjadi oposisi karena partai yang lain satu per satu sudah berpaling ke Pemerintah.

Tetapi “keakraban” itu tidak selalu berbanding lurus dengan penghargaan ke satu sama lain. Loyalitas dan semangat untuk adil selayaknya seorang sahabat. Dalam politik, sekarang teman sejati karena butuh, besok bisa jadi teman biasa karena sudah tidak lagi butuh.

Hal ini pun pernah menimpa Gerindra yang membuat Prabowo baper sampai sekarang, ketika PDIP mengangkat Jokowi sebagai capres ketimbang mendukung Prabowo.

Padahal, menurut Gerindra, PDIP sudah meneken perjanjian batu tulis untuk mendukung pencalonan Prabowo menjadi presiden. Tapi kenyataan berkata lain, konstelasi politik menunjukkan bahwa PDIP melihat Jokowi sebagai calon yang lebih layak diperjuangkan daripada Prabowo. Dan perjanjian itu pun hangus begitu saja.

Kini giliran Gerindra yang “membalas” perbuatan itu ke sekutunya sendiri, PKS, yang malangnya, memang tidak ada apa-apanya kalau mau dibandingkan dengan Gerindra. Elektabilitas dan popularitas sama-sama rendah, tokoh yang layak dimajukan dan mampu mengambil simpati rakyat pun tidak ada.

Akhirnya, Gerindra pun mengambil langkah yang sama, mereka lebih memilih kadernya sendiri daripada “membantu” PKS.

Sama, PDIP tidak melihat Prabowo layak diperjuangkan daripada Jokowi. Gerindra pun melihat kader PKS tidak cukup bagus dibanding kadernya sendiri. Maka, bodo amat dengan janji apalagi anggapan sebagai teman sejati.

Karena enggannya Gerindra “berbagi” kekuasaan dengan PKS, di Jakarta Timur, sejumlah kader DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tampak kecewa dan kesal.

Hal itu diutarakan kader PKS Jakarta Timur Amin Agustin terkait kabar bahwa PKS Jakarta Timur tidak ingin mengkampanyekan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Teman-teman Gerindra enggak komitmen. Kader-kader di bawah kesal juga. Saya melihat suasana kebatinan teman-teman seperti itu," tutur Amin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (19/10).


Amin mengatakan sudah banyak yang menyebut bahwa Gerindra sepakat memberikan kursi Wagub DKI Jakarta pengganti Sandiaga kepada PKS. Dia mempertanyakan mengapa hal itu tak segera direalisasikan hingga hari ini.

Padahal, kata Amin, PKS telah legowo ketika cawapres bukan berasal dari kader partainya. Atas dasar itulah sejumlah kader PKS Jakarta Timur merasa kecewa terhadap Gerindra.

"PKS sudah mengalah melulu, tapi dalam masalah ini masih belum komit. Padahal cawapres bukan dari PKS, kita udah legowo. Enggak ada masalah," ujar Amin.

Sebelumnya, beredar konten di twitter yang berisi tentang PKS bakal fokus meraih 12 persen suara pileg, sementara kampanye presiden diserahkan kepada Gerindra. Konten tersebut tercantum logo serta nomor urut PKS dan tertanda Amin Agustin, Biro PKF DPD PKS Jakarta Timur.

Amin mengamini bahwa dirinya pernah menulis kalimat demikian melalui akun twitternya. Namun, dia menampik mengolah kalimat tersebut menjadi meme seperti yang telah beredar.

"Saya sendiri masih mencari siapa yang bikin meme itu," ucap Amin.

Amin lalu menjelaskan bahwa kalimat tersebut sebatas ekspresi kekecewaan pribadi terhadap Gerindra. Dia menegaskan hal itu bukan arahan struktural dari DPD PKS DKI Jakarta maupun DPP PKS. Amin juga tidak menyebut dirinya mengancam Gerindra ataupun Prabowo dan Sandiaga.

"Konteksnya bukan sebagai keputusan struktur, tapi ekspresi kebatinan selaku kader yang melihat kondisi hari ini yang seperti itu," kata Amin.

Peluang Gerindra memberikan posisi wagub ke PKS memang kecil. Sampai sekarang M. Taufik masih bersikeras untuk menempati posisi wagb DKI dan menantan PKS untuk beradu saja di DPR.

Tantangan ini tidak segera direspons oleh PKS karena mereka lebih ingin melakukan musyawarah daripada adu kuat di DPR. Memang rada meragukan, antara ingin musyawarah, atau takut kalah di DPR.

Kalau Gerindra memang “menganggap” PKS, apa susahnya memberikan kursi itu ke PKS. Tinggal tegur saja M. Taufik oleh Prabowo, pasti selesai urusan. Tapi Gerindra memang partai besar yang rakus kekuasaan. Sebagai partai yang bukan apa-apa di bandingkan Gerinda, maka PKS pun harus rela disuruh kerja bakti terus.


0 Response to "Tak Kunjung Serahkan Kursi Wagub DKI, Kader PKS Ancam Tidak Ikut Kampanyekan Prabowo"

Posting Komentar