
Orang yang sangat sayang dengan kita itu terkadang menyebalkan. Coba lihat saja seorang ibu yang cerewet kepada anaknya. Mereka cerewet bukan karena benci, tetapi karena saking sayangnya, saking perhatiannya dan menginginkan hal yang terbaik bagi anaknyalah yang membuat seorang ibu menjadi cerewet gak ketulungan.
Bukan hanya emak, pacar pun akan bertindak sama jika ia menyayangi kita. Kita akan dilarang untuk hal-hal yang negative dan lain sebaginya. Itu pacar yang sayang, ketika menjadi istri maka cerewetnya akan bertambah berkali-kali lipat.
Begitu juga dengan teman. Terkadang ketika kita sering bareng dengan teman, akan sering terjadi konflik dan perbedaan yang membawa keributan. Tetapi ketika kita sudah berjauhan maka kita akan merindukan masa-masa itu.
Ketika kita kehilangan orang yang disayang baru akan menyadari betapa berartinya orang tersebut untuk kita. Tetapi kebanyakan, ketika masih bersama, kita justru tidak pernah menganggapnya ada. Jangankan memperdulikan, bahkan terkadang marah dan ingin orang tersebut pergi menjauh dari kita.
Namun setelah kita jauh dengan orang tersebut, biasanya kita akan sangat kehilangan. Sangat merindukan apa yang ia lakukan pada kita. Kita merindukan mereka karena kebaikan-kebaikan yang telah orang tersebut lakukan kepada kita, tetapi saat bersama kita tidak pernah menyadarinya.
Mungkin saat ini, warga DKI Jakarta pun mengalami hal yang sama. Jika para Ahoker yang menangis gak karuan ketika Ahok kalah pilkada dan masuk penjara, mereka sudah merasa kehilangan terlebih dahulu. Bahkan baru dalam sejarah, ketika seorang gubernur kalah pilkada, banyak bunga papan ucapan terima kasih membanjiri balaikota, sedangkan yang menang justru dicuekin. Itu semua membuktikan, bahwa cinta Ahok untuk warga DKI Jakarta benar-benar merasuk ke dalam hati.
Lalu mengapa Ahok kalah? Karena selain pendukung yang benar-benar paham dan cinta, ada juga orang yang masih gamang, belum bisa memutuskan siapa yang benar-benar baik dan siapa yang pura-pura baik. Coba lihat saja, Anies di putaran pertama suaranya terbagi dengan Agus-Sylvi. Ketika diputaran ke dua, suara Agus-Sylvi masuk ke suara Anies-Sandi.
Fakta di atas mungkin menunjukkan bahwa masih ada pemilih yang gamang, belum bisa menentukan pilihan hati. Jadi 58 persen suara Anies bukan berarti itu mencintai Anies semua, tetapi ada juga yang karena sudah terbawa emosi oleh pendukung Ahok yang menyerang segala Arah, baik Agus-Sylvi maupun Anies Sandi. Bandingkan dengan pendukung Anies dan Agus, mereka tidak saling serang.
Orang-orang yang gamang saat ini mungkin sedang kangen akan pelayanan dari Ahok. Orang yang mencoblos Anies-Sandi ketika pilkada, mungkin ada orang yang pernah datang ke balaikota dan mengadu pda Ahok terkait permasalahan yang menimpanya, tetapi karena kasus penistaan agama , ia mengalihkan dukungan.
Atau mungkin orang-orang yang tidak memilih Ahok dipilkada yang lalu juga merasakan bagaimana nikmatanya ketika aduan melalui qlue dapat direspon dengan cepat di masa pemerintahan Ahok.Dan mungkin masih banyak hal-hal lain dari Ahok yang mereka rindukan terkait bagaimana Ahok yang galak ketika ada dana siluman ditemukan. Mungkin orang-orang yang tidak memilih Ahok pada pilkada yang lalu merindukan tulisan “pemahaman nenek lo”. Atau mungkin guru ngaji yang gajinya gak keluar selama berbulan-bulan di era Anies pun merindukan Ahok, karena di zaman Ahok jangankan gaji, Marbot Masjid pun di kirim untuk umroh, dan mungkin mereka tidak memilih Ahok karena kasus penistaan agama yang dituduhkan pada Ahok.

Dan ternyata, bukan hanya warga DKI Jakarta yang kangen, wakil walikota bekasi pun merindukan Ahok. Ia membandingkan bagaimana koordinasi yang mudah di zaman Ahok terkait dana kemitraan dan konpensasi bau terkait sampah. Seperti kita ketahui bersama, sampah DKI dibuang diwilayah bekasi.
Dana hibah masuk perjanjian antara DKI dan Kota Bekasi. Ada 41 item perjanjian terkait pemanfaatan lahan di Bantargebang untuk pembuangan sampah dari Jakarta. Di zaman Anies, wakil walikota mengaku sangat sulit cair, hingga saat ini dana sebesar 2 miliar terkait hal tersebut pun belum cair. Padahal di zaman Ahok, jangankan dana hibah, pembangunan tol pun Ahok kerap bantu.
"Kenapa yang selama ini bisa terjalin dengan baik sekarang kok gubernur menjauh. Dulu (pembangunan) tol zaman Pak Ahok juga suka bantu," ujar Wakil Wali Kota Bekasi, Jawa Barat, Tri Adhianto, dihubungi, Jumat (19/10/2018), seperti yang dilansir detik.com.
Udah ah, itu aja…
#JokowiLagi
0 Response to "Bukan Jakarta Saja yang Kehilangan Ahok, Bekasipun Ternyata Ikut Kehilangan Ahok"
Posting Komentar