
"Winter Indonesia itu ya Prabowo. Mendung, kelam, suram, diselimuti ketakutan", kata Sekjen PSI Raja Juli Antoni. Pernyataan ini disampaikan Raja Juli saat menanggapi pidato Game of Trone-nya Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.
Saya semakin sepakat dengan apa yang disampaikan Sekjen PSI ini. Sejak kalah di Pilpres 2014 lalu, wajah Prabowo memang terlihat begitu menyedihkan. Mendung. Ia benar-benar sakit hati. Tak bisa menerima kenyataan pahit : seorang jendral harus takluk oleh tukang mebel.
Sebagai salah satu tokoh lama dalam panggung perpolitikan nasional, sebenarnya sudah waktunya Prabowo pensiun. Ibarat sebuah produk, Prabowo itu prototype yang gagal diproduksi. Jauh dari nilai layak untuk dipasarkan.
Jaman sudah berubah. Sangat jauh berbeda dibandingkan era mertuanya. Era informasi menjadikan segala hal begitu terbuka. Siapapun dengan bebas bisa menemukan informasi tentang apapun. Termasuk tentang rekam jejak seseorang.
Ditambah masyarakat yang semakin kritis, Prabowo makin tak bisa menyembunyikan fakta. Bagian dari orde baru, diduga kuat terlibat kasus pelanggaran HAM tahun 1998, dipecat dari dunia militer, nasib karyawan PT Kiani yang terlunta-lunta dan seterusnya tak bisa dipisahkan di setiap pembahasan masa lalu Prabowo. Kelam.
Andai pun, oke lah kita anggap masa lalu Prabowo tak sekelam itu. Namun sejarah terlanjur mencatat bagaimana sepak terjang Prabowo sebelum dan sesudah gelaran Pilpres 2014.
Dari awal kampanye, ia (melalui para pendukungnya) begitu lantang mengusung politik kesuraman. Betapa tidak. Ketika Jokowi muncul dengan rekam jejak prestisius serta mengkampanyekan visi misi Indonesia Hebat, Prabowo masih sibuk bermain isu PKI. Fatal!
Padahal semua orang tahu persis, PKI nyata-nyata sudah tidak ada. Dibumbui seperti apa pun propaganda itu tak akan mempan. Justru orang makin dibuat takut dengan Prabowo. Sebab, bagi masyarakat lebih mudah untuk mengamini fakta bahwa Prabowo adalah trah orde baru daripada propaganda PKI yang fiktif itu.
Bagaimanapun baiknya, bicara tentang orde baru tak bisa dipisahkan dengan pemerintahan otoriter. Tak bisa dikritik. Bahkan digosipin sedikit aja bisa diculik. Tentu ketakutan dipimpin oleh Presiden trah orde baru membuat masyarakat anti dengan Prabowo.
Suram. Saya berusaha mengingat, apa saja visi misi Prabowo pada Pilpres 2014 lalu. Namun saya tak bisa menemukan apa-apa kecuali hanya retorika boco..bocor, kekayaan negara dikuasai asing dan lain sebagainya. Artinya, dari dulu Prabowo tak pernah menunjukkan optimisme seorang calon pemimpin.
Bahkan hingga hari ini, Prabowo makin pesimis melihat masa depan. Dengan polosnya ia mempercayai Indonesia bubar berdasarkan novel fiksi. Beberapa hari lalu, ia juga mempercayai ramalan bahwa tahun 2025 Indonesia akan krisis air. Lelucon apa lagi ini??
Hari ini Prabowo melakukan kunjungan politik ke Ponorogo. Hadir di tengah pendukungnya, Prabowo sempat dibuat naik darah oleh emak-emak yang berebut buku. Bahkan ia sampai tak bisa menahan diri.
"Saudara mau diam atau saya yang bicara, saudara naik ke sini (panggung,red). Kalau mau sopan saya bicara dulu, ini ingin lanjut atau tidak. Jangan ribut sendiri," tegas Prabowo
Prabowo emosi. Ini bukan hal yang baru. Dari dulu ia memang terlihat sebagai sosok yang temperamental. Mulai dari kader dilempar hp hingga membentak pendukung yang tidak bisa tertib sudah biasa bagi Prabowo.
Yang membuat saya geli adalah pernyataan berikutnya. Berlokasi di salah satu tempat makan di Jalan KH. Ahmad Dahlan Ponorogo, Prabowo juga sempat mengingatkan bahwa Indonesia dalam keadaan sakit.
"Kita harus yakinkan rakyat, negara kita sedang sakit parah. Banyak kekayaan kita yang diambil negara lain," ujar Prabowo.
Saya ulangi. Kita harus yakinkan rakyat, negara kita sedang sakit parah. Entah karena mulutnya typo atau bagaimana, pernyataan Prabowo ini jelas menampakkan apa yang sesungguhnya sedang ia lakukan. Ia sedang berupaya memanipulasi keadaan.
Tanpa diyakinkan oleh siapapun, rakyat bisa tahu negara ini sedang sakit atau tidak. Kenapa ia harus repot-repot meyakinkan rakyat untuk percaya dengan manipulasinya? Toh faktanya, negara masih bisa membangun. Perekonomian berjalan normal. Pos-pos sumber daya energi vital berhasil diambil alih kembali oleh pemerintah dan seterusnya.
Dengan begini, masyarakat akan semakin paham. Semuanya sedang baik-baik saja bahkan banyak hal mengalami peningkatan positif selama Jokowi memimpin Indonesia. Negara sedang sakit hanyalah imajinasi dan propaganda dari seorang capres yang mendung, kelam, suram, diselimuti ketakutan
Begitulah kalau ambisi berkuasa tak diimbangi oleh akal sehat. Segala cara ditempuh. Menyerang secara membabi buta hingga tak sadar telah salah ucap. Bukannya makin nampak hebat, tapi Prabowo justru sedang mencoreng muka sendiri.
Terima kasih, salam PBNU! #JokowiLagi.
0 Response to "Gara-gara Mulut Typo, Prabowo Mencoreng Muka Sendiri"
Posting Komentar